Senin, 26 Oktober 2009

Kembang Perawan

Bab 1: Ciuman Mesra

Meskipun awalnya ragu, akhirnya Nisa mau juga masuk ke rumah Faris. Dadanya berdegup kencang karena ini adalah kali pertama ia main ke rumah teman prianya. Kamu tentu tahu Madrasah ‘Aliyah tempat mereka berdua bersekolah melarang hubungan lawan jenis seperti ini. Seperti halnya perintah tegas Sekolah kepada setiap siswi untuk mengenakan jilbab.

Tapi Nisa tak bisa menolak ajakan teman yang ia sukai itu. Dua tahun sudah mereka saling mengenal, sejak keduanya sama-sama duduk di bangku kelas satu. Dan perasaan suka itu muncul di hati Nisa tak lama setelah pertemuan pertamanya. Kalau tidak karena Faris memberi sinyal yang sama, Nisa tentu sudah melupakan perasaannya. Tapi cowok itu terus saja bersikap spesial kepadanya, hingga cinta jarak jauh mereka terjalin erat meski tanpa kontak fisik.

Lalu tiga bulan yang lalu saat menjelang Ujian Akhir Sekolah. Kelas pria dan wanita yang biasanya terpisah mulai digabung di beberapa kesempatan karena alasan peningkatan intensitas pelajaran. Siswa putra duduk di barisan depan, sedang yang putri di bagian belakang. Tapi Faris duduk di barisan putra paling belakang sedang Nisa di barisan putri paling depan. Maka tak ayal Faris berada tepat di depan Nisa. Dan itulah awal kontak terdekat yang terjadi pada mereka.

Biasalah… Awalnya pura-pura pinjam alat tulis, tanya buku, ini… itu… Tapi senyuman makin sering tertukar dan kontak batin terjalin dengan pasti. Kadang ada alasan bagi keduanya untuk tidak keluar buru-buru saat istirahat, hingga ada masa singkat ketika mereka hanya berdua di dalam kelas; tanya-tanya pelajaran—alasan basi yang paling disukai setiap orang.

Dua bulan lebih dari cukup untuk memupuk rasa cinta. Meski pacaran adalah terlarang, dan keduanya belum pernah saling mengutarakan cinta, tapi semua teman mereka tahu keduanya adalah sepasang kekasih. Hubungan cinta yang unik di jaman yang serba bebas ini. Dan Nisa begitu menikmati perasaannya. Setiap waktu teramat berharga. Sekilas tatapan serta seulas senyuman selalu menjadi bagian yang menyenangkan.

Lalu cinta mulai berkembang saat kenakalan muncul perlahan-lahan. Nisa sempat ragu saat Faris memintanya untuk datang ke Mall M sepulang sekolah sore itu. Sejuta perasaan bahagia membuncah di hati Nisa, bercampur dengan rasa takut dan kegugupan yang luar biasa. Ia nyaris pulang lagi saat sore itu ia berdiri di pintu Mall untuk bertemu dengan Faris. Tapi cowok itu keburu melihatnya hingga ia tak dapat menghindar lagi. Ia tahu bahwa dirinya salah tingkah selama kencan pertama mereka.

Malamnya Nisa tak bisa tidur. Membayangkan tentang betapa menyenangkannya kencan mereka, saat untuk pertama kalinya Faris menggenggam tangannya selama berkeliling melihat-lihat banyak hal. Seluruh tubuhnya terasa panas dingin. Faris bahkan membelikan sebuah hadiah berupa kalung mutiara yang sangat mahal untuk ukuran dirinya. Untaian mutiara itu sangat indah, putih memancarkan kilau yang terang. Cowok itu berkata, “Walaupun aku tak akan dapat melihatmu mengenakan kalung itu, kuharap kamu mau tetap mengenakannya.” Dan tentu saja ia senantiasa mengenakan kalung mutiara itu.

Satu bulan itu dihiasi dengan kencan sembunyi-sembunyi yang sangat mendebarkan. Seperti bermain kucing-kucingan dengan semua orang yang Nisa kenal. Kalau ada satu saja orang yang tahu Nisa berduaan dengan seorang pria di Mall, maka Nisa tak dapat membayangkan petaka apa yang akan menimpanya. Tapi berhenti dari melakukan itu ia yakini lebih mengerikan daripada terus menjalaninya. Karena, di sore itu, di satu sudut yang sepi di dalam Mall, tiba-tiba saja Faris mencium pipinya dengan cepat tanpa mengatakan apapun juga. Hanya sekilas, dan Faris membuat seolah-olah itu tak pernah terjadi. Tapi pengaruhnya sangat besar pada diri Nisa. Karena seluruh perasaannya bergemuruh dan membuncah. Bercampur aduk hingga ia hanya bisa diam saja seperti orang bodoh. Sisa sore itu berlalu tanpa ada dialog apapun, karena Nisa tahu wajah putihnya telah berubah semerah udang rebus. Meninggalkan kesan terindah yang terbawa ke dalam mimpi bermalam-malam sesudahnya.

Tiga hari sejak peristiwa itu Nisa selalu berusaha menghindar dari Faris. Ia merasa malu, bingung dan takut. Bagaimanapun juga satu sisi perasaannya masih memiliki keyakinan bahwa cinta mereka mulai melewati batas. Tapi ia belum tahu cara kerja nafsu. Karena ketika akhirnya mereka bertemu kembali, Nisa tak bisa menolak saat di banyak kesempatan Faris mencium pipinya berkali-kali; kanan dan kiri. Bahkan, saat Faris semakin nakal dengan meremas tangannya, memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya (meski semua itu dilakukan Faris tak lebih dari lima detik saja), Nisa hanya terpana dan sangat menikmati semuanya. Sebelum berpisah, Faris berbisik pelan kepadanya, “Kamu mau, kan, main ke rumah esok sore?”

Anehnya, seperti seorang yang terhipnotis, Nisa mengangguk…



Maka, sore itu, dengan mengenakan gamis bercorak ceria khas remaja dengan hiasan renda bunga melati, dipadukan dengan jilbab pink yang disemati bros berbentuk kupu-kupu, juga sebuah tas jinjing dari kain kanvas, Nisa duduk di sofa ruang tamu di rumah Faris. Menunggu kekasihnya mengambilkan dua gelas jeruk dingin dan sepiring buah-buahan segar. Matanya menatap ke sekeliling ruangan dan mendapatkan kesan yang sangat menyenangkan.

Kesan itu didapat, sebagian karena bagaimanapun ini adalah rumah orang yang ia cintai, dan sebagiannya lagi karena pemiliknya memiliki cukup banyak uang untuk menata dengan demikian indahnya. Nisa tak tahu banyak soal dekorasi, tapi sesungguhnya rumah itu memang didesain dengan nuansa klasik yang sesuai dengan alam pegunungan tempat rumah itu berdiri. Perabotan, dari mulai lampu-lampu, tempat duduk, meja, lukisan-lukisan serta berbagai hal didominasi oleh corak bambu dan kayu asli. Sementara dedaunan dan tanaman hijau—bercampur antara imitasi dan buatan—menghiasi sudut-sudut yang tepat. Air terjun buatan dibangun di samping ruang tamu, dengan cahaya matahari yang hangat menyinari dari kaca jendela samping. Wilayah itu ditutup oleh kaca bening yang dialiri air dari atas, sehingga mengesankan suasana hujan yang indah dan menimbulkan bunyi gemericik air yang terdengar menyenangkan.

Lukisan pedesaan dipasang di satu sudut yang tepat bagi pandangan mata, dengan gaya naturalis hingga setiap detail nampak sangat jelas. Seperti sebuah foto namun memancarkan aura magis yang lebih kentara. Nisa sempat terpana dengan semuanya, dengan kesejukan yang melingkupi seluruh dirinya, sampai ia tak sadar kalau Faris telah duduk di sebelahnya, sedang menata gelas dan piring-piring.

“Maaf, ya… Seadanya. Habisnya Umi lagi ke Bandung ikut seminar, nemenin Abi…”

Nisa tersipu malu. Ia berasal dari keluarga yang lebih sederhana, sehingga rasa mindernya muncul saat mendapati rumah yang demikian besar dan mewah ini ternyata milik pacarnya.

“Nggak apa-apa, Ris. Nisa seneng, kok…” Nisa merasakan suaranya tercekat di tenggorokan.

Sore itu Nisa lalui dengan sangat menyenangkan. Ngobrol berdua, bercanda, tertawa, nonton film, main game PS hingga makan malam. Nisa baru tahu bahwa ternyata Faris bisa memasak. Pintar malah. Kelezatan rasanya melebihi masakan yang pernah ia buat. Dengan malu ia mengakui itu di hadapan kekasihnya, yang membalasnya dengan ciuman pipi kanan yang lembut.

“Aku tetep sayang kamu, kok…”

Perlu diketahui bahwa Nisa saat itu berusia 16 tahun dan memiliki tubuh yang mulai matang sebagai seorang gadis. Posturnya juga tinggi dengan wajah manis yang terkesan keibuan. Tapi percayalah bahwa ia sangat polos, lebih polos dari gadis SD di kota besar yang telah mahir urusan peluk dan cium. Desa tempat ia tinggal sangat jauh dari arus informasi dan pengaruh buruk ibukota. Maka ia tak menaruh prasangka apapun saat Faris mengajaknya menginap di rumahnya malam itu. Memang ini urusan yang tabu di desanya, tapi kepolosan Nisa membuatnya yakin bahwa Faris tak akan melakukan hal buruk terhadapnya. Sehingga, pilihan berbohong ia lakukan agar bisa berduaan terus dengan kekasihnya. Ia telah bilang pada orang rumah bahwa ia akan menginap di rumah Ririn. Ia tahu orang tuanya tak akan curiga, karena hal itu biasa ia lakukan di waktu-waktu ujian sekolah. Apalagi menjelang Ujian Akhir seperti sekarang.

Suasana malam sangat sunyi dan suara jengkerik telah berganti dengan burung malam. Tak berapa lama rintik hujan mulai turun, dan Nisa tak menyadarinya sampai hujan itu berubah jadi deras. Sangat deras, karena di musim penghujan seperti ini hal seperti itu selalu saja terjadi. Kalau tidak karena suasana cinta yang tengah meliputinya, Nisa tak akan betah di rumah orang dalam situasi seperti itu.

O, iya… Sebetulnya Nisa dan Faris tidak benar-benar berdua di rumah, karena ada Hana, adik perempuan Faris yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SMP. Makanya Nisa tidak terlalu merasa sungkan, karena ia bisa bermain dengan Hana juga di sepanjang sore dan malam itu. Farislah yang agak kerepotan karena harus meminta Hana agar berjanji tidak memberitahukan keberadaan Nisa kepada orang tua mereka. Hana sebetulnya tidak susah dibujuk. Hanya saja keberadaannya menyulitkan karena ciuman-ciuman harus dilakukan secara hati-hati.

Peluk dan cium beberapa waktu yang lalu memang mendapatkan perlawanan (meski setengah hati) dari Nisa. Tapi hal itu tak berlaku malam ini, karena kini Nisa merasa lebih santai dan bebas. Di satu kesempatan Faris memeluknya sembari mencium bibirnya sekilas. Di kesempatan lain ia dipeluk dari belakang, tepatnya saat ia mencuci piring bekas makan malam dan pria itu mengendap-endap dari belakang dan begitu saja melingkarkan tangan di pinggangnya. Nisa sempat menjerit pelan dan berusaha meronta, tapi tangannya yang memegang piring dipenuhi busa sabun hingga susah untuk bergerak. Ia hanya menggelinjang pelan dan merengek lemah, saat pelukan itu makin erat dan ciuman di pipinya membuatnya terbius. Hampir saja Hana melihat perbuatan mereka, kalau Faris tidak buru-buru melepaskan pelukan di pinggang yang ramping itu.

Setelah mandi malam yang menyenangkan, di dalam bath-tub air hangat yang penuh busa dan peralatan mandi yang lengkap milik Umi Faris, Nisa bergabung dengan kakak beradik di ruang TV. Ia mengenakan busana malam yang lebih santai (setidaknya untuk ukuran gadis berjilbab); kemeja kaus lengan panjang putih bermotif garis warna biru dengan bawahan rok katun berwarna biru lembut, dipadukan jilbab simpel berwarna biru senada. Parfum aroma bunga khas remaja ia seprotkan di tempat-tempat yang tepat untuk menyegarkan dirinya. Lalu ia duduk di samping Hana yang sedang tertawa menyaksikan film kartun di televisi.

Mata Nisa saat itu tertuju penuh ke televisi, namun pikirannya terbang ke alam tertinggi yang penuh imajinasi. Pelukan dan ciuman hangat dari Faris mau tak mau membangkitkan gairah terpendam yang selama ini tersembuyi jauh di dasar jiwanya. Ia mengalami semacam sensasi aneh yang baru dikenalnya, yang sangat memabukkan dan membuatnya lupa diri. Jam baru pukul delapan malam namun kegelisahannya telah memuncak.

Nisa tak tahu—atau mungkin tak berani mengakui—bahwa dirinya telah dipenuhi sensasi seks yang menyenangkan. Terlebih ini adalah masa-masa suburnya. Letupan-letupan kecil yang dipicu oleh Faris membuatnya perlahan-lahan tebawa ke arus deras, hingga sulit terbendung oleh keremajaannya yang sedang membara. Penghalang dirinya untuk melakukan hal-hal yang lebih seronok adalah rasa malu, takut serta ketidaktahuan yang besar tentang kondisi-kondisi semacam ini. Tapi pancingan-pancingan yang dilakukan oleh Faris dengan lihai membawanya pada pengalaman-pengalaman terlarang yang sangat menggairahkan. Semuanya akibat kepolosan sang gadis remaja.

Jam delapan lewat dua puluh menit Faris bangkit dari duduknya dan menarik tangan Nisa agar mengikutinya. Hana tak sadar karena ia terfokus pada acara televisi. Nisa menurut dan dadanya berdebar kencang saat Faris menariknya ke lantai dua. Kalau Nisa sedikit lebih gaul, ia akan tahu Faris bermaksud melakukan sesuatu, tapi Nisa jauh lebih polos dari yang orang kira, hingga ia justru merasa senang saat Faris mengajaknya untuk melihat-lihat kamarnya. Ia senang bisa tahu isi dalam kamar kekasih yang ia cintai.

Nisa kagum pada suasana kamar Faris yang menyenangkan. Ia juga terkejut saat menemukan foto dirinya dalam pose separuh badan terpampang di dinding kamar. Foto itu ditutupi Faris oleh poster pemain bola, hingga tidak ada yang tahu bila setiap malam ia menarik poster itu dan memandangi foto gadis yang tersenyum manis di sana.

Nisa setengah lupa tentang kapan ia membuat foto itu. Ia merasa foto itu lebih cantik dari aslinya. Tapi Faris menjelaskan bahwa program komputer photoshop dapat melakukan banyak hal, seperti membuat gadis secantik dirinya terlihat lebih segar dan mempesona. Nisa tersipu malu. Tapi itu belum seberapa, karena tiba-tiba Faris menarik dirinya agar berhadapan, lalu mengeluarkan sepasang anting mutiara dari kotak beludru di saku celananya. Nisa terperanjat. Faris berbisik mesra,

“Ini pasangan kalung yang pernah kuberikan. Aku mau kamu mengenakannya…”

Mata Nisa berkaca-kaca. Kalau saja ia berani, ia sudah memeluk pria di hadapannya dan menciumnya bertubi-tubi. Tapi ia terlalu malu untuk melakukan hal semacam itu. Ia hanya salah tingkah, saat Faris meletakkan anting-anting itu di telapak tangannya dan berkata lagi,

“Aku pasangkan sekarang, ya…”

“Tapi…” Suara Nisa serak dan lirih.

“Tapi kenapa?”

“Nisa malu…”

“Kok malu? Bukankah kita saling mencintai?! Masihkah kita saling tertutup?”

Nisa bingung untuk menjawab, karena ini adalah momen pertama dalam hidupnya ketika ia harus membuka jilbabnya di hadapan seorang laki-laki. Wanita-wanita yang biasa berbikini di kolam renang atau berpakaian seksi di Mall-mall tentu tak akan paham kenyataan ini. Tapi Nisa adalah perempuan yang sejak belasan tahun lalu selalu menutup seluruh bagian tubuhnya dan tak memamerkannya pada siapapun kecuali keluarganya. Melepas jilbab baginya sama seperti melepas rok di depan kamera bagi gadis keumuman.

Aneh? Memang! Tapi itulah kenyataannya. Ia setengah menangis saat tak kuasa menolak permintaan Faris yang menyudutkan itu. Ia memang diam. Tapi dadanya bergemuruh hebat saat jemari Faris melepasi jarum dan peniti yang menyemati jilbabnya. Ia tertunduk dalam dan menahan nafas saat tangan kekasihnya menarik lepas jilbabnya. Tangannya yang gemetar meremas-remas ujung kaus, dan tanpa sadar ia menggigit bibirnya sendiri saat Faris menarik dagunya agar mereka bisa saling bertatapan serta membelai rambutnya dengan mesra; rambut yang hitam lurus sepanjang bahunya.

“Kamu cantik sekali, Nisa…” Suara itu terdengar lirih, dan Nisa hanya terpejam menahan semua perasaannya. Itu adalah ekspresi terbodoh yang pernah ia lakukan, atau justru yang terbaik, karena semuanya mendorong Faris untuk mengecup bibirnya dengan lembut. Ciuman hangat dan penuh cinta, membawa Nisa terbang tinggi dan melupakan dunia ini.

“Mmmh…”

Nisa hanya terpejam pasrah. Tubuhnya gemetar hebat. Tapi mulutnya terbuka lebar saat lidah Faris mulai menjulur dan menggelitiki rongga mulutnya. Lidahnya ikut bergerak meski masih sangat kaku, saling menggelitiki untuk mendapatkan sensasi aneh yang sempurna. Tangannya begitu saja memeluk lengan Faris yang kokoh, yang saat itu tengah melingkarkannya di pinggangnya sendiri.

Waktu seakan berhenti. Dan keduanya terpaku seperti sepasang patung sihir. Hanya helaan nafas yang terdengar di sela-sela ciuman membara dan dipenuhi gelora cinta. Kedua tubuh itu merapat dan saling bergesekan, seakan tak dapat terpisahkan. Saling memberikan rasa hangat yang aneh dan membangkitkan seluruh saraf yang tertidur. Keduanya baru berhenti ketika nafas mulai habis dan terengah-engah kelelahan. Nisa kaget dan merasa malu sekali. Mulutnya basah akibat ciuman panas itu. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain menanti yang terjadi selanjutnya. Ia membiarkan Faris memasang anting-anting di kedua telinganya. Ia menahan rasa geli saat jari jemari Faris seakan menggelitik kedua telinganya, dan menurut saja ketika pria itu menuntunya ke hadapan cermin besar.

“Lihat… Kamu cantik sekali..”

Nisa melihat sekilas ke cermin, menyaksikan dirinya sendiri tanpa jilbab, dengan dihiasi anting-anting dan kalung mutiara dari kekasihnya. Ia merengek manja dan menutup muka dengan telapak tangannya. “Aah… Faris jahat… Nisa malu…”

“Malu sama siapa?”

Mereka bercanda dengan mesra dan lebih hangat. Ciuman tadi telah menyingkapkan tabir kekakuan yang telah terbentuk selama ini. Mereka kini lebih mirip sepasang kekasih, dengan pelukan dan ciuman hangat yang sarat nuansa cinta.



Pagi itu adalah pagi terindah bagi Nisa. Menghidangkan sarapan di meja makan untuk Faris membuatnya merasa seperti seorang istri yang melayani suaminya. Faris dan adiknya sangat puas dengan masakannya. Canda tawa menghiasi makan pagi mereka yang berlangsung dengan santai. Seusai makan Hana langsung berangkat sekolah, meninggalkan sepasang sejoli yang dimabuk asmara itu tanpa kecurigaan apapun. Membiarkan keduanya menikmati hari dalam kemesraannya.

Tapi, kalau kamu berpikir malam itu keduanya melakukan hubungan-hubungan khusus suami istri, percayalah bahwa kamu salah besar. Mereka masih terlalu penakut untuk melakukan hubungan yang lebih jauh. Meskipun ciuman mereka semakin panas, aktivitas lain masih terhitung sopan karena tangan Faris tak pernah bergerilya seperti tangan para professional. Masih tetap pelukan sopan yang tak melibatkan rabaan ataupun sentuhan lain. Keduanya tidur terpisah dan tak ada aktivitas nakal di malam hari.

Nisa pulang dari rumah Faris sekitar pukul sepuluh pagi, setelah banyak ciuman tambahan sehabis sarapan dan mandi pagi. Kepada orang rumah ia bilang sekolah pulang cepat. Seharian ia lebih banyak mengunci diri dalam kamarnya, menikmati sensasi imajinasi yang semakin liar dibanding waktu sebelumnya.
***

Bab 2: Inikah ‘Bunga Cinta’ Itu?


Pertemuan selanjutnya ternyata lebih lama dari yang diduga. Keduanya benar-benar tersibukkan oleh tugas-tugas sekolah, hingga baru bertemu lagi (untuk berduaan tentunya) dua minggu setelahnya. Keluarga Faris berlibur ke rumah nenek di luar kota. Alasan ujian membuat Faris bisa menghindar dari paksaan orang tuanya, sehingga rumahnya bebas selama satu minggu penuh. Itulah saat yang tepat untuk bermesraan dengan Nisa, dan ia telah menyiapkan banyak hal untuk pekan yang istimewa itu.

Nisa datang pagi hari itu dengan mengenakan seragam sekolahnya. Perpisahan yang cukup lama ternyata membuat gadis itu lebih agresif, sehingga, meskipun tetap Faris yang harus memulainya, Nisa memberikan balasan yang sedikit liar dan nakal. Faris sampai megap-megap kewalahan. Sesudahnya mereka tertawa-tawa sambil berpelukan di atas sofa, sembari mata mereka menatap layar TV tanpa bermaksud menontonnya.

Sekitar menjelang siang Nisa dibonceng Faris untuk main ke Mall M. Setelah itu dilanjutkan ke taman L dan bermain sepeda air di sana. Mereka juga melakukan banyak hal yang menyenangkan, yang membuat mereka lupa waktu. Hari telah senja ketika keduanya memutuskan untuk pulang, saat langit berubah gelap dan tiba-tiba saja menjadi hujan yang sangat deras sebelum keduanya tiba di rumah. Tak sampai lima menit ketika keduanya berubah basah kuyup, dan Nisa telah menggigil kedinginan saat perjalanan belum mencapai setengahnya.

Keduanya tiba di rumah saat menjelang makan malam. Oleh-oleh yang mereka beli di jalan telah basah kuyup dan tak ada satu bagianpun yang kering dari diri mereka. Tubuh Nisa menggigil hebat dan wajahnya pusat pasi. Bibirnya agak membiru. Faris bergegas membawa gadis itu ke dalam rumah dan menyiapkan air panas di bath-tub kamar atas. Sementara menunggu gadis itu mandi, ia menyiapkan dua gelas susu coklat panas dan sekaleng biskuit kacang. Ia sendiri langsung mandi setelah itu, dan keduanya selesai setengah jam kemudian.

Nisa baru sadar bahwa ia tidak memiliki pakaian ganti, dan kebingungan sampai mengurung diri di kamar mandi. Faris berusaha meminjamkan pakaian ibunya, tapi pakaian bersih ibunya terkunci dalam lemari. Sementara itu pakaian Hana juga tak muat dan terlalu kecil. Untunglah Faris ingat bahwa di kamar tamu ada pakaian-pakaian saudara sepupunya, yang biasa disimpan di sana untuk dipakai jika menginap di rumah Faris.

“Tapi… Sepupuku tidak berjilbab. Jadi pakaiannya agak… Kamu coba aja deh cari yang pas. Aku tunggu di ruang TV…”

Nisa kebingungan sendiri di kamar tamu itu. Ia agak risih karena semua pakaian di dalam lemari itu adalah pakaian-pakaian yang gaul, serba ketat dan serba minim. Cukup lama ia memilih dan tidak menemukan juga pakaian yang cocok untuk dirinya, sehingga ia memilih pakaian yang menurutnya agak paling sopan. Tapi tetap saja serba minim. Dengan malu ia mengenakan pakaian pilihannya dan menghampiri kekasihnya di ruang TV.

Wajah Faris berubah kaget dan matanya bergerak kesana-kemari; mata yang biasa Nisa temukan pada pria-pria nakal di pinggir jalan. Tapi Nisa tahu semua ini karena dirinya, dan setengah menangis ia berusaha menutupi keterbukaan dirinya dengan kedua tangan. Bagaimana tidak?! Inilah pertama kalinya seumur hidup ia mengenakan pakaian minim di hadapan seorang pria, meskipun itu adalah kekasihnya juga. Sepupu Faris bertubuh lebih pendek dan kecil dari dirinya, sehingga kaus pink tipis bergambar Barbie yang ia kenakan benar-benar melekat ketat di tubuhnya, menampakkan lekuk-lekuk yang nyata dan mempesona. Bahkan bagian pusarnya tidak betul-betul tertutupi, meskipun berkali-kali ia berusaha menarik kaus itu ke bawah.

Sementara itu, celana hijau lumut selututnya juga sama ketatnya, dan tidak benar-benar selutut, karena tubuh Nisa yang tinggi. Nisa sebetulnya memiliki kulit yang putih bersih dan lekuk yang indah, sehingga ia nampak cantik menawan dengan pakaian seksi itu. Terlebih rambut panjangnya masih setengah basah, menciptakan sedikit gelombang yang menambah aura kecantikannya. Tapi Nisa tak terbiasa dengan hal-hal seperti itu, hingga ia merasa dirinya buruk dan norak. Ia takut Faris meledeknya, serta jengah dengan keterbukaannya sendiri.

“Kamu cantik sekali, Nisa…” Suara Faris terdengar bergetar, dan Nisa merinding ketika pria itu malah mendekatinya dan berusaha memeluknya. Ia berusaha menghindar dan tangannya menolak pelukan Faris.

“Nisa malu… Jangan, Faris… Jangan…”

“Lho… Kenapa?”

Nisa hanya menggeleng dan Faris berusaha menghormatinya. Mereka menghabiskan malam dengan menonton TV dan menghabiskan susu hangat di meja. Namun Nisa agak lebih pendiam dan gelisah. Tangannya terus-terusan memeluk bantal besar, berusaha menutupi apa yang ada di baliknya. Ia tak tahu bahwa pria di sebelahnya lebih gelisah lagi, meski alasannya sedikit berbeda. Ia terlalu sibuk oleh pikirannya sendiri hingga tak sadar bahwa mata Faris terus menelusuri dirinya, seolah berusaha menelanjangi.


Awalnya Nisa tak sadar pada sentuhan itu. Berkali-kali Faris mencium pipinya, tapi ia menganggap wajar hal tersebut. Itu hal yang biasa mereka lakukan, dan Nisa menganggapnya sebagai sun sayang yang biasa ia dapatkan. Tapi Faris kini telah melingkarkan tangan kiri melalui sandaran sofa dan mendarat di bahunya. Sedang tangan kanan diletakkan di atas lutut Nisa yang terbuka. Cuaca memang sangat dingin akibat hujan yang tidak juga berhenti, hingga elusan di lututnya terasa nyaman dan menghangatkan, membuat Nisa setengah tak sadar ketika elusan itu makin merambat ke atas pahanya yang sedikit tersingkap.

Nisa sangat suka nonton sinetron dan tayangan di TV adalah sinetron favoritnya. Adegan dan kata-kata romantis di layar kaca seperti memberi hipnotis tersendiri. Adegan ciuman memang disensor, tapi hal itu justru membuatnya tak kuasa menolak saat ciuman Faris beralih ke bibir basahnya. Untunglah saat itu sedang iklan, hingga ciuman dari Faris dapat diterima oleh Nisa sepenuhnya, yang baru sadar bahwa posisi duduk kekasihnya sangat mengintimidasi dirinya. Tapi ciuman itu begitu manis dan menyenangkan, memunculkan rasa hangat yang menggelora yang sangat ia rindukan. Tak perlu menunggu lama untuk membangitkan hasrat gadis itu. Pengalaman telah mengajarkan banyak hal kepadanya, sehingga lidahnya langsung menyambut saat Faris mulai mengajaknya bermain-main.

Bibir Nisa termasuk agak tipis, merah dan masih alami. Namun lidahnya lincah dan pandai bergerak. Dengan daya dukung kecerdasan di atas rata-rata, ia menjadi gadis yang cepat belajar dan tahu bagaimana cara memuaskan lawan mainnya. Faris sendiri sangat kaget dengan kecepatan Nisa dalam mempelajari teknik-tekik baru, hingga di akhir pertandingan lidah mereka, ia membiarkan sang gadis mengalahkannya hingga pipi gadis itu merona akibat agresivitasnya sendiri.

Ketika berciuman Nisa lupa pada apapun. Tapi setelah selesai ia baru sadar bahwa sejak tadi tangan kanan Faris terus-terusan membelai-belai pahanya, bergantian antara kanan dan kiri. Kini ia benar-benar merasakan rangsangan itu, rangsangan yang lebih terkesan dewasa dibanding sekedar ciuman bibir. Tangannya bertindak cepat, mencegah Faris sesaat sebelum tangan kekasihnya itu menyentuh bagian pangkal pahanya. Mulut mereka terdiam dan hanya mata yang berbicara. Faris meminta, Nisa menolak halus. Tangan Faris bergerak lagi, tapi Nisa mencegah lagi.

Faris tersenyum manis. “Maaf, ya… Aku kelewatan…”

Nisa ikut tersenyum.

“Lebih baik kita dengar musik aja, ya! Kita berdansa. Seperti di film.”

Nisa diam menunggu dan manut saja pada apa yang diinginkan kekasihnya. Suara lembut mengalun dari player, dan tangan Faris menjulur padanya. Nisa grogi karena ia belum pernah berdansa sebelumnya. Faris meyakinkan bahwa ia sama tidak tahunya seperti Nisa. Jadi tak usah malu karena mereka hanya berdua di sini. Dengan langkah-langkah kaku tubuh mereka bergerak pelan, saling berpelukan. Keduanya tertawa pada gerakan masing-masing, tapi tetap merasa senang karena ciuman dimulai lagi beberapa saat sesudahnya.

Tubuh Nisa hampir sama tingginya dengan Faris, hingga ia tak perlu berjinjit untuk menyambut pagutan pria itu. Ia tak tahu bahwa kecantikannya makin memesona diri Faris dan keremajaannya terus memancing-mancing gairah. Belum lagi aroma parfum menebar dari seluruh tubuhnya. Tangan Faris tak tahan untuk tidak mengelus-elus tubuh bagusnya, bergerak dari pinggang ke arah atas.

Nisa masih setengah menganggap elusan itu adalah bagian dari gerakan berdansa. Ciuman bibir Faris membuat tubuhnya lemas, hingga elusan itu ia nikmati saja seperti halnya ciuman di bibirnya. Terasa geli saat menyentuh bagian samping dadanya.

“Mmmh… Mmhhh…” Elusan tangan Faris makin mengarah ke dada Nisa, membelai-belai benda yang lunak dan empuk itu. Gadis itu mengejang karena rasa aneh yang melandanya. Itu adalah sentuhan pertamanya, dan ia masih sangat sensitif. Tangannya secara refleks berusaha mencegah, tapi Faris yang tak mau gagal lagi berusaha menahan Nisa agar tetap diam. Ciumannya makin liar hingga Nisa tak bisa mengelak. Remasan di dadanya terasa makin nyata, membuat Nisa terengah-engah akibat rangsangan hebat di tubuhnya. Ia tak kuasa mencegah remasan itu, karena bagaimanapun dirinya ternyata menikmatinya.

Keduanya terengah-engah akibat ciuman yang panjang itu. Sedang muka Nisa makin memerah, karena ia benar-benar terangsang oleh remasan tangan Faris di dadanya. Payudaranya yang berisi membuat genggaman Faris terasa penuh. Ia membiarkan dirinya terdesak ke dinding, hingga ia tidak sampai merosot jatuh saat remasan tangan Faris makin lincah dan mempermainkan puncaknya yang masih tertutup kaus. Ia hanya mendongak setengah terpejam dan tangannya yang bingung merapat ketat di tembok. Ia makin belingsatan karena di saat yang bersamaan ciuman Faris mendarat di dagu dan lehernya bertubi-tubi. Lehernya cukup panjang dan jenjang, hingga kepala Faris dapat terbenam di sana dan memagut-magutnya seperti ular.

Nisa merasakan air mata mengalir lewat sudut matanya. Ia sangat kebingungan mengenali perasaannya saat ini. Remasan tangan kanan Faris berganti menjadi ciuman bibir. Ia sempat menunduk dan hanya melihat rambut kekasihnya. Kepala Faris terbenam di buah dadanya yang telah mengeras kencang, dan Nisa dapat mendengar kecipak-kecipuk saat Faris melahap dadanya itu dengan sedikit buas.

“Faris… Faris… Ohhh. Apa yang kamu lakukan sama Nisaaa… Mmhhh… Jangan, Ris… Aahh…”

Faris telah menggulung kaus ketatnya ke arah atas, berusaha menyingkapkannya agar buah dada itu lebih leluasa dinikmati. Lelaki itu terus meremas-remas dengan lembut dan penuh perasaan. Menjepit dan mempermainkan putting susunya yang masih tertutup BH tipis berwarna krem. Mungkin Faris merasa gemas mendapati payudara yang demikian empuk dan kenyal itu, payudara perawan yang masih sangat sensitif dari sentuhan.

Keadaan Nisa kini sungguh mengenaskan. Kekasihnya menyerangnya di berbagai tempat, mempermainkan dirinya seperti sebuah boneka. Bibir dan tangan kiri di payudaranya, tangan kanan di sela-sela pahanya. Semuanya adalah sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Dulu ketika ia belum pernah mengalaminya, ia selalu berjanji bahwa ia hanya akan melakukan ini dengan suaminya di atas ranjang pernikahan. Dulu ketika hal ini tak pernah terbersit dalam benaknya, ia sangat yakin mampu menjaga kehormatannya. Tapi kini ketika benar-benar mengalaminya, ia tak tahu apakah ia akan tetap sekuat itu. Sentuhan-sentuhan ini terlalu melenakan dirinya, dan membangunkan perasaan rindunya yang telah lama terpendam. Ia sangat bingung hingga hanya mampu meneteskan air mata dan meremas remas rambut Faris.

“Aku sayang kamu, Nisa… Mmmh… Aku sayang kamu…” Terdengar rayuan Faris di sela-sela kesibukannya. Nisa hanya mampu menjawabnya dengan erangan-erangan aneh, karena saat itu tangan kanan Faris telah menembus langsung ke pangkal pahanya. Jari jemari pria itu menggosok-gosok dan mempermainkan di tempat yang paling sensitif, hingga Nisa merasakan celananya basah oleh cairan yang tak ia kenal sebelumnya.

Memang sentuhan tersebut bukanlah sentuhan langsung karena tubuh Nisa masih tertutup CD tipis dan celana ketatnya. Tapi ini adalah sentuhan pertamanya, dan semuanya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan rangsangan dahsyat itu. Apalagi setelah beberapa lama Faris tidak juga menghentikan aktivitasnya, melainkan menggesek-gesek dengan lebih liar. Kemaluannya terasa seperti diaduk-aduk, hingga makin lama ia makin merasakan desakan yang aneh sangat sulit ia pahami. Ia tak dapat menahan perasaannya. Ia terus mengerang… mengerang… hingga desakan itu makin menuju ke arah puncak… Ia tak sanggup bertahan lagi…

“Aaahh… Aaahh… Akhhhhh….” Nisa menjerit panjang saat orgasme melanda tubuhnya untuk pertama kalinya. Tubuhnya mengejang kuat, melengkung seperti busur. Kakinya merapat menjepit tangan Faris yang tak juga berhenti bergerak. Ia merasakan letupan-letupan dahsyat seperti sebuah terpaan badai. Dunia dipenuhi warna yang berpadu dengan indahnya.

“Oohh… Mamaa… Mmhhh…”

***

Bab 3: Rahasia Tubuh Nisa


Hujan mulai mereda menyisakan rintik yang jatuh perlahan-lahan. Keduanya berpelukan menikmati suasana dan sisa-sisa percintaan yang mulai mereda. Nisa tak mampu menatap Faris karena malu yang melandanya, hingga hanya menunduk dan menatap dada kekasihnya, sembari tersipu membenahi kaus ketatnya.

“Aku siapin makan malam, ya… Kamu tunggu aja dulu, ya…”

Nisa mengangguk. Sementara Faris menyiapkan makan malam, ia masuk ke kamar tidur tamu dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia menatap dirinya di dalam cermin. Satu persatu pakaiannya ia lepas dan membiarkan tubuhnya yang telanjang terpampang bebas di dalam cermin. Ia menatap bagian-bagian yang tadi dieksploitasi oleh Faris dan menemukannya basah oleh ludah serta cairan-cairan lengket lainnya. Ia tersipu malu dan membasuh lagi semuanya di kamar mandi. Ia menggunakan sabun banyak-banyak karena keringatnya telah membasahi pakaiannya. Pakaian bekas ia masukkan ke keranjang cucian dan mengenakan pakaian tidur yang tersedia di lemari.

Setelah percintaan yang melenakan Nisa barusan, gadis itu jadi mulai menyukai bentuk tubuhnya sendiri. Padahal sebelumnya ia merasa risih dengan pinggul dan payudaranya yang mulai membesar seperti ibunya. Ia juga risih dengan rambut yang mulai tumbuh di pangkal pahanya. Tapi kini Nisa tahu bahwa pria menyukai yang seperti ini. Dan ia berharap Faris akan makin mencintainya karena ia tumbuh sebagai wanita yang sempurna.

Kalau beberapa waktu sebelumnya Nisa merasa risih dengan pakaian minim yang ia kenakan, kini ia justru sangat menyukainya. Rupanya Faris juga suka melihatnya seperti ini. Sehingga ia memutuskan mengenakan gaun tidur yang terbuka di bagian atas, yang hanya di tautkan ke pundaknya dengan tali kecil. Gaun itu berwarna ungu lavender, serta tidak terlalu panjang di bagian bawahnya. Paha dan betisnya yang putih jenjang nampak indah dibalut warna lavender gaun tidurnya. Kalung dan anting mutiara berkilauan di leher dan telinganya. Ia mematut diri di balik cermin dan sangat bangga memiliki kecantikan yang sangat alami.

Makan malam berlangsung hangat dan romantis. Keduanya saling menyuapi, berbicara tentang banyak hal, dan berkali-kali ucapan Faris menjurus pada hubungan seks. Nisa malu-malu menanggapinya, dan terdiam jengah saat Faris menjelaskan bahwa orgasme bisa didapatkan melalui banyak cara. Tapi ia telah melalui wilayah terlarang itu, hingga mau tak mau harus belajar terbiasa dengan pembahasan seperti itu. Terlebih lagi beberapa waktu kemudian keduanya memutuskan untuk tidur bersama di atas satu ranjang, dan melanjutkan cumbuan mereka yang sempat terputus oleh makan malam.

Seperti semua pemain pemula yang mau banyak belajar, Nisa pandai menepiskan rasa malunya dan mengikuti instruksi Faris yang senakal apapun. Ia pasrah ketika dirinya dijadikan boneka mainan kekasihnya, dan membiarkan semua bagian tubuhnya dicumbui habis-habisan oleh bibir dan tangan Faris. Leher dan bahunya merah-merah bekas pagutan, tapi ia tak peduli dan tetap membiarkan Faris melanjutkan permainannya.

“Talinya aku lepas, ya!” Bisik Faris yang duduk di hadapannya. Dan ia hanya mampu menjawab dalam bisikan, “Terserah kamu aja…”

Nisa melihat Faris tak ragu-ragu untuk melepaskan tali gaun di bahunya dan membiarkannya jatuh ke arah perut. Ia sendiri dapat melihat bagaimana BHnya dicampakkan ke atas ranjang, hingga dadanya benar-benar terbuka di hadapan kekasihnya. Ia sempat berusaha menutupi puting susunya yang mengacung, tapi tangan Faris menariknya dan mendorong tubuhnya agar berbaring. Ia telentang pasrah, menyaksikan kekasihnya berdecak kagum pada buah dadanya yang padat kencang. Puting susunya yang merah muda segera dilahap oleh kekasihnya, dan Nisa merasakan serangan kenikmatan itu datang lagi. Puting susunya kanan dan kiri dicumbu oleh mulut dan jari Faris, dan ia hanya mampu menjerit-jerit serta meremas seprai ranjang. Kegiatan itu berlangsung beberapa menit, sampai Faris melepaskannya saat kedua puting itu makin mengacung tegak serta basah oleh ludah.

“Oh… Paha kamu indah sekali! Halus… Mulus…” Nisa menatap Faris yang berdecak kagum saat memandangi kedua pahanya. Ia sendiri memang bangga dengan pahanya, tapi tak dapat membayangkan bahwa pria akan sedemikian bernafsunya melihat paha perempuan yang terbuka. Tapi keheranannya tak lama, karena darahnya berdesir saat kedua tangan Faris mulai mengelus-elus pahanya itu, dari lutut… Terus ke arah dalam. Roknya makin tersingkap, terus terbuka…

“Boleh, kan?”

“Mmmmhhh…”

Gaun tidur Nisa tergulung ke atas hingga melewati batas perutnya. Pusarnya terlihat jelas. Celana dalamnya terpampang lebar. Faris mulai menyentuhnya dengan kelembutan yang melenakan. Nisa menggelinjang saat Faris menjilati dan menggelitiki pusarnya dengan ujung lidah. Ia menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Wajahnya semerah udang rebus. Mulutnya menganga mengeluarkan rintihan panas. Jilatan dan elusan Faris makin terpusat ke satu titik. Dengan tarikan lembut di bagian kanan dan kiri, tali CD Nisa terlepas hingga Faris leluasa membukanya. Pria itu berhenti untuk berdecak kagum, memandangi rambut-rambut halus di sebuah bukit indah yang hangat dan masih sangat rapat.

Nisa masih perawan, dan bagian itu tak pernah tersentuh siapapun selain dirinya sebelumnya. Daerah itu putih bersih dan terawat, namun menjadi merah muda dan ‘berumput’ di bagian tengahnya. Bagian lubang lebih seperti sebuah garis lurus. Tentunya perlu perjuangan ekstra keras jika ingin menemukan lubang yang tepat, dan bertambah keras lagi untuk dapat menembusnya.

Tapi tentu saja bukan itu yang akan dilakukan Faris sekarang. Nisa pasti akan berontak jika hal itu dilakukan terlalu terburu-buru. Sekarang saja paha Nisa telah merapat dengan ketat, dan kedua tangannya berusaha menutupi keterbukaannya. Gadis itu merengek-rengek pada kekasihnya,

“Jangan, Faris… Nisa malu… Nisa takut…”

“Memangnya kenapa?”

“Pokoknya jangan…”

“Aku nggak akan apa-apain, kok… Cuma lihat saja… Sebentar, ya…”

“Jangan Faris…”

Nisa merengek setengah menangis. Ia agak takut membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Tapi Faris terus meyakinkannya bahwa ia tidak akan menodai Nisa. Ia hanya akan melihatnya sebentar saja. Nisa sungguh bodoh karena mempercayai ucapan pria itu. Tak mungkin Faris menelanjanginya jika hanya ingin melihat saja. Tapi itulah yang terjadi pada Nisa. Meski berkali-kali merapatkan kaki, ia akhirnya menuruti permintaan kekasihnya dan mengijinkan Faris melakukan apa yang ia inginkan. Ia hanya menunggu dengan berdebar, dengan tubuh yang sangat gelisah dan nafas terengah-engah, ketika wajah Faris tepat berada di depan kemaluannya. Tangan lelaki itu menggenggam tangannya dan menyingkirkannya ke samping, dan ia tak tahu harus melakukan apa lagi.

“Apa kubilang?! Punyamu ini bagus sekali! Indah! Masih perawan… Kenapa kamu harus malu, sayang? Aku kan kekasihmu… Calon suamimu…”

Mungkin itu semacam mantra sihir bagi Nisa. Gadis itu sejenak lupa ketelanjangannya saat Faris mengucapkan kata ‘suami’. Suami berarti pernikahan. Dan apa yang harus dirahasiakan dari dua orang yang sudah menikah? Bukankah hal semacam ini toh nanti akan ia lakukan juga?

Muka Nisa bersemu merah menerima sanjungan itu. Matanya menatap sayu, dan merasa nyaman akan belaian Faris di paha putihnya. Faris sungguh baik karena selalu meminta izin untuk melakukan berbagai hal. Ia tentu saja harus mengizinkannya, karena Faris adalah orang yang paling ia cintai di dunia ini. Ia harus mengizinkan bila ternyata Faris tidak sekedar melihat miliknya itu, melainkan menyentuh dan membelainya dengan ujung jarinya.

“Aaah… Aahhh… Risss…. Kamu jangan…. Ohh…”

Ucapan Nisa terpotong erangannya sendiri. Bagaimanapun belaian di pangkal pahanya telah membuatnya belingsatan. Faris telah menarik sebuah bantal besar dan meletakkannya di bawah pantatnya. Pahanya direnggangkan, sangat lebar hingga ia terpaksa mengangkang, semementara lelaki itu menelusuri pahanya dengan ciuman-ciuman basah. Makin ke pangkal dan menjilatinya dengan ujung lidah.

Duh Mama… Seandainya aku tahu kenikmatan ini sejak dulu…, Nisa membatin dalam penderitaannya menerima cumbuan Faris. Lelaki itu memadukan jilatan lidah, hisapan mulut dan gelitikan jari jemari hingga membuatnya benar-benar setengah gila. Erangannya telah memenuhi seluruh kamar, dan remasan tangannya telah mengacak-acak seprai ranjang.


Faris adalah tipe pria yang sabar dan telaten. Ia seakan tahu titik-titik mana yang paling membangkitkan gairah Nisa, hingga Nisa tak peduli lagi pada aturan serta etiket yang pernah melekat erat dalam hidupnya. Tak ada lagi Nisa si gadis santun. Yang ada hanyalah gadis 16 tahun yang tengah dimabuk cinta, setengah telanjang di atas ranjang di kamar orang, dengan seorang pria asyik memagut-magut klitoris di pangkal kewanitaanya.

Jika ini sejenis penyiksaan, maka ini adalah penyiksaan yang paling menyenangkan. Cairan vagina Nisa telah membanjir, dan paha putihnya terus mengejang-ngejang akibat kontraksi hebat. Ia menjepit kepala Faris kuat-kuat, saat orgasme kembali melanda tubuh remajanya. Letupan hebat membuat pantatnya terangkat naik, membawanya mencapai puncak dengan kepuasan yang sempurna.

Malam telah larut ketika Nisa terbaring tenang di atas ranjang. Tubuhnya masih telanjang dan gaun tidurnya masih melilit di perut rampingnya. Ia menikmati sisa-sisa letupan, sesaat lupa pada Faris yang berada di hadapannya. Kesadarannya kembali ketika Faris memanggilnya,

“Nisa, kamu senang?”

Ia menatap kekasihnya yang kini berbaring menghadap dirinya. Ia mengangguk lemah seraya tersenyum. Ia merasa makin cinta kepada Faris. Ketampanan pria itu benar-benar memesonanya, dan sentuhannya telah memabukkan dirinya.

“Kamu mau, kan, gantian membahagiakanku?”

“Tentu saja, sayang! Apapun yang kamu mau, akan Nisa lakukan.”

“Benar?”

“Iya…” Suaranya serak akibat erangan-erangan tadi.

“Kalau gitu, kamu cumbu aku, ya…” Sembari mengatakan itu, Faris menarik tangan Nisa yang telanjang dan mengusapkannya ke balik celananya sendiri. Tentu saja Nisa tersentak dan menarik tangannya cepat. Ia mendapati sebuah benda keras menyembul di balik celana Faris, sesuatu yang ia tahu tapi tak pernah ia lihat secara langsung.

“Ris… A.. Apa yang mesti Nisa lakukan?”

“Seperti yang telah aku lakukan kepadamu barusan.” Faris kembali menarik tangan Nisa yang gemetar. Ia mengelus-eluskan tangan hangat itu ke kemaluannya.

“Ta… Tapi…” Nisa sangat gelisah karena mendapati benda itu makin mengeras akibat sentuhannya. Terasa panas di telapak tangannya. Sentuhan seperti inikah yang disukai seorang pria?

Faris tak menunggu jawaban dari dirinya. Lelaki itu begitu rileks saat melucuti pakaiannya sendiri, hingga benar-benar telanjang di hadapan sang perawan. Nisa sempat menutup wajah saat menyaksikan benda yang tadi ia sentuh kini mengacung tepat ke hadapannya. Bentuknya besar dan panjang, dan terlihat lebih hitam dibanding tubuh Faris yang lain. Inikah yang disebut kemaluan laki-laki? Benda inikah yang dirindukan sekaligus ditakuti banyak wanita? Nisa tak berani membayangkan seandainya Faris meminta lebih semisal hubungan seks yang sesungguhnya.

“Ayolah sayang!” Nisa tak bisa berpikir lama karena Faris kini mulai menariknya agar duduk bersimpuh. Sedangkan Faris sendiri berdiri tegak di atas ranjang, hingga penis itu kini berada tepat di depan wajahnya. Nisa meringis dan salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa. Ia memasrahkan semuanya pada kekasihnya, yang ternyata menarik tangannya agar menggenggam kemaluan yang kekar itu. Nisa kini tahu apa yang diinginkan oleh Faris.

***

Bab 4: Sarapan Spesial


Esoknya Nisa bangun kesiangan. Hampir tengah hari saat ia membuka mata dan mendapati tubuhnya sangat letih. Faris masih nyenyak di sebelahnya—bagian bawah tubuh telanjang pria itu tertutup selimut. Ia menatapnya dengan pandangan sayang, mengenang percintaan mereka yang sangat membara malam tadi. Entah berapa kali Faris membuatnya mengalami orgasme, dan entah berapa kali pula ia memberikan Faris kepuasan yang sama dengan mulut dan jemarinya.

Nisa tersenyum geli mengingat satu peristiwa di malam tadi. Waktu itu Faris memintanya untuk naik ke atas tubuhnya dengan posisi membalik. Dengan posisi itu ia mencumbu penis Faris, sedangkan Faris mencumbui vaginanya. Faris menamainya posisi 69—sebuah nama yang sangat lucu, yang ternyata sangat mengasyikan. Tentu saja Nisa tak tahu bahwa posisi itu sangat populer belakangan ini, tapi ia memang tidak tahu apa-apa sampai ketika Faris mengajari banyak hal malam tadi.

Namun ada satu hal yang sangat Nisa sukai dari Faris, yakni ketulusan sikap pria itu dalam mencintai, dengan tetap menjaga kehormatannya meski nafsu sudah memuncak. Faris tidak memaksanya saat ia mengatakan belum siap untuk hubungan seks yang sesungguhnya. Ia ingin menyerahkannya keperawanannya di malam pengantin mereka. Faris meyakinkan bahwa semua yang mereka lakukan sejauh ini sudah lebih dari cukup. Ia juga menjelaskan bahwa untuk ukuran kehidupan remaja seusia mereka, hubungan cinta malam itu adalah suatu hubungan yang lumrah terjadi.

Padahal Nisa sendiri yakin, bahwa kalau seandainya Faris lebih memaksa dirinya, ia tidak akan bisa menolak dan dengan tulus akan menyerahkan kesuciannya. Permintaannya malam itu sebetulnya hanyalah permintaan setengah hati—Nisa sendiri tidak terlalu yakin ketika mengucapkannya. Satu sisi gelap dalam dirinya menginginkan hubungan seks melebihi keinginan Faris sendiri, Nisa tahu itu. Ia meyakininya sebagai ‘nafsu wanita’, nafsu yang pandai untuk dijaga, tapi tak akan bisa berhenti bila sudah mulai meledak.

“Aku akan sabar menunggu kesiapanmu, sayang…” Demikian Faris menegaskan.

Nisa terharu mendengar kesungguhan dari Faris. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu memberikan kebahagiaan kepada kekasihnya. Ia akan memenuhi hasrat-hasrat terpendam Faris bila pria itu menginginkannya, seperti dengan cumbuan tangan atau mulut yang spesial (ia malu sendiri saat membayangkan keliaran dirinya tadi malam saat mengoral penis Faris yang perkasa).


Dengan sedikit malas Nisa bangkit dari ranjangnya. Ia dapat melihat pakaian mereka berceceran di lantai dan tempat tidur. Terbayang ketika malam tadi ia begitu bernafsu hingga tak peduli pada apapun. Kini kesadaran telah membangunkannya, dan sedikit penyesalan menyeruak dalam hatinya. Sekali lagi ia merasa beruntung karena belum sempat melepaskan keperawanannya. Karena kini ia jadi tahu bahwa nafsunya tetap dapat disalurkan meski tanpa hubungan itu.

Nisa agak malas untuk mengenakan kembali pakaian aslinya. Lebih baik sekalian saja saat tubuhnya sudah bersih. Ia menggulung rambutnya yang kusut masai dan menjepitnya, lalu mencari pakaian di dalam lemari Faris. Di sana ia menemukan sebuah kaus longgar yang, ketika ia kenakan, panjangnya hampir mencapai lutut. Ia jadi ingat bahwa situasi seperti ini mirip sebuah adegan di dalam film. Ia tersenyum geli. Membiarkan dirinya mengenakan kaus itu tanpa apapun lagi di dalamnya.

Turun dari tangga dan menyiapkan sarapan, Nisa merasa dirinya seperti nyonya rumah, atau istri pengantin baru, setidaknya seperti yang sering ia saksikan di televisi. Setelah cuci muka dan menyikat gigi. ia menyiapkan nasi goreng dan secangkir kopi untuk kekasihnya. Ia sendiri merasa cukup dengan segelas susu hangat, lalu menatanya di atas meja makan.

Faris sudah bangun ketika ia menata meja. Pria itu hanya mengenakan celana pendek putih ketat hingga tonjolannya terlihat jelas. Nisa tersenyum manis saat tubuhnya dipeluk dari belakang. Rasa geli menyeruak ketika Faris mencium pipi dan lehernya yang terbuka, serta menggelinjang pelan saat tangan pria itu menyentuh pangkal pahanya. Faris berdecak karena Nisa tidak mengenakan apa-apa lagi di balik kausnya. Perlu perjuangan untuk melepaskan diri dari cumbuan lelaki itu, karena tiba-tiba saja sentuhan mesra itu berubah jadi sedikit liar.

“Mmmh… Udah, ah! Kita sarapan dulu! Udah siang, nih!”

“Ini juga lagi sarapan!” Faris tetap bertahan dan bahkan mulai meremas buah dada Nisa. Sedangkan sentuhan di pangkal paha gadis itu mulai berubah jadi remasan, hingga mau tak mau Nisa menggelinjang-gelinjang keenakan. Tubuhnya terangsang lagi. Ia mengernyit berusaha menahan rasa, sambil berpikir untuk menaklukan serangan itu.

Ide nakal muncul dalam benaknya saat ia merasakan tekanan di bagian pantatnya. Tanpa pikir panjang tangannya bergerak ke belakang, lalu menarik pantat Faris agar tubuh mereka lebih merapat lagi. Setelah itu ia menggerakkan tubuhnya naik turun dengan pantat yang sedikit lebih menekan.

“Ohh.. Nisa…” Situasi berubah dan Faris mulai kelabakan. Konsentrasinya pecah hingga serangan tangannya mulai mengendur. Nisa sendiri merasa geli oleh tekanan kuat di pantatnya. Tapi ia bertekad mengalahkan Faris pagi ini hingga pantatnya bergerak makin erotis. Membiarkan Faris setengah gila akibat cumbuannya yang agak nakal.

Setelah beberapa saat yang melenakan, Nisa mulai melepaskan diri dan membalik ke hadapan Faris. Bukannya berhenti, ia malah duduk berlutut dan memelorotkan celana pria itu. Disiram serta dibersihkannya kemaluan Faris dengan air putih di meja makan. Cucurannya ia biarkan tumpah membasahi kausnya sendiri. Setelah diseka dengan tisu, Nisa mulai menggenggam penis itu dan mengocoknya perlahan-lahan.

“Ssshhh… Ohhh…”

Faris mengerang hebat. Tapi Nisa tak peduli. Entah bagaimana ide nakal semacam itu bisa muncul dalam benaknya. Malam tadi ia masih takut dengan benda di hadapannya. Tapi kini ia telah mulai mengenalnya dengan baik, hingga mendapati dirinya ternyata sangat menyukainya. Kocokan tangan saja menjadi tidak cukup. Kepala penis yang bulat bagai helm tentara itu ia jilat perlahan-lahan, lalu mulai dilahap dengan ekspresi penuh kerinduan.

Ia telah melakukan hal semacam ini malam tadi. Awalnya terasa aneh dan menggelikan—mungkin karena baru pertama kali mencobanya. Tapi lama kelamaan ia menyukainya dan seolah ketagihan. Benda itu begitu panjang dan besar, hingga ia harus membuka mulutnya agak lebar saat ingin melahap semuanya. Nafasnya terengah-engah saat mulutnya bergerak maju mundur, sedang tangannya mempermainkan buah dzakar yang munurutnya sangat lucu itu.

Entah berapa lama ia melakukan semuanya. Yang jelas Faris makin mengerang hebat ketika sesuatu mendesaknya untuk keluar. Nisa segera berusaha mencabut mulutnya karena tahu cairan itu akan menyembur sesaat lagi. Tadi malam ia kaget karena mengiranya air kencing. Tapi Faris tak mau ia melepaskan mulutnya begitu saja, hingga ketika orgasme melanda lelaki itu, cairan sperma menyembur ke dalam mulut Nisa. Gadis itu menahan nafas agar tidak tersedak, dan mendapati cairan lengket memenuhi mulutnya.

Nisa bangkit dengan sperma mengalir di sela-sela bibir bawahnya. Ia mengernyit karena rasa anyir yang aneh dan tidak enak. Tapi Faris mendorong sperma itu dengan telunjuknya agar masuk kembali.

“Jangan dimuntahkan, sayang! Itu sehat, lho! Banyak proteinnya. Punyamu juga suka aku habiskan!”

Nisa tentu saja tahu bahwa Faris sangat bernafsu dengan cairan lendir miliknya. Tapi, jujur saja, sperma itu rasanya tidak enak. Ia menelannya dengan susah payah hanya demi menyenangkan hati Faris. Pria itu malah menertawakan dirinya karena wajahnya mengernyit aneh.

“Nggak enak, tahu! Kayak telur mentah.”


Untunglah segelas susu menetralkan semuanya hingga kesegarannya kembali pulih. Ia menemani Faris sarapan dan mendapatkan pujian dari sang kekasih. Satu hal yang baru ia temui dari Faris pagi ini, satu hal yang berbeda dari Faris yang biasanya. Faris kini terkesan lebih luwes dan seperti telah biasa melakukan hal semacam ini. Lelaki itu bahkan makan dengan tubuh telanjang. Tapi Nisa menepis perasaannya mengingat ia sendiri kini hanya mengenakan kaus basah.

Baru saja Faris menghabiskan kopinya ketika berkata pada Nisa, “Kok aku masih lapar, ya?”

“Mau Nisa buatin lagi?”

“Nggak usah. Biar aku bikin sendiri. Kamu duduk aja.”

Faris bergegas pergi ke belakang, sementara ia duduk dan menunggu. Pria itu kembali dengan membawa mentega dan susu bubuk. Nisa keheranan melihat Faris senyum-senyum sendiri. Ia tak merasa curiga sedikitpun. Mungkin Faris ingin membuat roti oles mentega. Tapi rupanya Faris memiliki rencananya sendiri, karena tiba-tiba saja Faris menarik lalu menggendong tubuhnya.

“Awww… Kamu mau apa, Faris? Lepaskan Nisa…!”

Nisa berusaha melepaskan diri, tapi Faris tak peduli. Lelaki itu hanya berseru ‘Lihat saja! Lihat saja!’ sambil membaringkan tubuh gadisnya di atas meja makan. Nisa merasa penasaran hingga membiarkan dirinya diperlakukan sedemikian rupa. Tadinya ia berpikir bahwa ia telah menang. Tapi rupanya ia terlalu cepat menduga, karena kini Faris melakukan hal yang lebih gila dari dirinya. Sebetulnya Nisa setengah membayangkan apa yang akan Faris lakukan terhadapnya. Tapi ia lebih suka membuktikannya secara langsung, karena Faris ternyata pintar dalam hal-hal semacam ini. Ia sudah merasakannya dengan hubungan mereka semalam suntuk.

Apa yang Nisa pikirkan kini nyata terbukti. Faris meyingkapkan kausnya hingga ke atas dan membuat semuanya terpampang jelas. Lalu tanpa basa-basi pria itu menyiraminya dengan air dari teko. Digosok-gosoknya tubuh telanjang itu untuk membuang sisa keringat serta lendir yang mongering. Faris melakukannya dengan sangat lembut dan telaten, hingga Nisa terbuai dan terlena dibuatnya. Apalagi ketika Faris menggosok-gosok vaginanya. Rasa dingin air teko berpadu dengan sentuhan hangat tangan Faris. Tubuhnya terasa bersih dan segar ketika Faris mengeringkannya dengan handuk tebal.

“Fuihh… Daging telah dibersihkan. Kini siap untuk disantap!”

Nisa tertawa geli mendengar perumpamaan yang lucu itu. Bagaimana mungkin Faris menyebutnya gumpalan daging yang siap disantap? Tapi rupanya memang itu yang terjadi, karena Faris kini telah mengambil mentega dan menuangkannya ke atas perutnya. Nisa terlonjak kaget. Mentega itu Faris oleskan dengan merata seperti mengoleskan krim untuk kulit. Nisa melihat tubuh bagian atasnya kini berlumur mentega kuning, dari dada menuju perut hingga ke pangkal pahanya. Faris bahkan mengoleskan mentega itu ke atas vaginanya juga, serta sedikit menyelipkannya di sela-sela lubangnya yang masih rapat.

Gila! Faris benar-benar telah gila! Nisa menemukan dirinya kini benar-benar jadi hidangan untuk sarapan pagi Faris. Tubuhnya yang telah berlumur mentega itu kini ditaburi lagi dengan susu dan cokelat tabur, hingga seluruh kulitnya terasa lengket dan agak licin.

“Yummi…! Saatnya sarapan…”

“Faris… Kamu nakal…”

Nisa telah pasrah seutuhnya dan diam saja menerima perlakuan dari Faris. Ia biarkan tubuhnya dijilati kekasihnya penuh nafsu, sembari menahan rasa geli yang merayapi. Mau tak mau ia mulai merintih juga. Terlebih ketika puting susunya yang dipenuhi taburan coklat dicucup dan dihisap dengan serakah. Ia mengerang-erang keenakan. Ini adalah sensasi tergila sejauh yang pernah ia alami. Buah dadanya serasa membengkak akibat dihisapi tanpa henti, sementara Faris tak mau membiarkan ada sisa mentega yang melekat di atas sana.

Tapi sensasi ternikmat tentu saja adalah saat jilatan lidah Faris makin menuju ke pangkal paha. Faris duduk santai di atas kursi, sementara dirinya telentang pasrah di atas meja makan. Kakinya dikangkangkan lebar-lebar, sehingga Faris dapat leluasa melakukan semua yang diiginginkan.

Faris menarik kaki Nisa agar lebih mendekat lagi. Kedua paha Nisa disampirkan di atas bahunya hingga kaki gadis itu kini menjuntai ke arah punggung. Dengan posisi seperti ini keduanya telah siap untuk apapun, dan Nisa menjerit panjang saat jilatan lidah Faris menyapu hangat bibir vaginanya.

“Mmmmhh… Mamaa… Ssshhh… Ohhhh…”

Lidah Faris terasa hangat dan menggelikan. Setiap sapuan membuat tubuhnya menggelinjang. Dan kecipak-kecipuk terdengar jelas saat Faris makin buas mencumbui keperawanannya.

Klitoris adalah bagian yang paling sensitif dari tubuh wanita. Dan siapapun akan gila jika klitorisnya dicumbu dengan gaya penuh nafsu. Rupanya Faris telah memahami ilmu tersebut, karena Nisa merasakan Faris terus saja mencumbui bagian klitorisnya. Seakan tak peduli bila ia menderita akibat rangsangan yang dahsyat itu.

Untunglah rumah ini sedang sepi. Nisa merasa bisa menjerit-jerit sepuasnya, karena hanya dengan cara itulah ia dapat mengekspresikan gairah nafsu yang melandanya laksana badai. Di sekolah pada jam seperti ini ia mungkin sedang mengantuk menghadapi jam terakhir pelajaran. Apalagi ini hari selasa. Pengisinya adalah guru yang sangat jago matematika tapi sudah separu baya serta mulai setengah tuli. Terbayang penderitaan selama dua jam pelajaran menghadapi guru seperti itu hanya untuk menghitung angka-angka.

Nisa berusaha bangun untuk melihat sendiri cara Faris mencumbui klitorisnya. Ia mengernyitkan wajah sembari mengerang-erang, karena menyaksikan Faris menghisap klitorisnya kuat-kuat. Ia menjulurkan tangan untuk membelai kepala Faris. Lelaki itu melepaskan cumbuannya dan menatapnya sembari tersenyum. Ia balas tersenyum. Ekspresi wajahnya cukup menjelaskan bahwa ia sangat menginginkannya. Dan Faris yang sangat memahami itu kembali lagi pada tugasnya.

Orgasme Nisa kali ini terasa dahsyat dan beruntun. Tubuh gadis itu mengejang hebat dan tanpa sadar pahanya menjepit kepala Faris kuat-kuat. Letupannya sangat indah dan berwarna laksana pelangi. Sesudahnya Nisa terempas kembali ke atas meja, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Rasanya seperti mimpi, mengingat beberapa hari yang lalu hal semacam ini tak pernah terpikirkan sedikitpun dalam benaknya. Hanya dalam semalam ia telah berubah drastis. Dan bila mengingat beberapa saat yang lalu ia masih seorang gadis yang lugu dan pemalu, maka kini ia merasa sangat nakal dan (entah mengapa ia mulai merasa) murahan.

Tapi, bagaimanapun, ia sangat menikmatinya…